Makna Tradisi Wiwitan Tama Taon di Desa Bilok Petung Kecamatan Sembalun
The meaning of the Wiwitan Tama Taon tradition in Bilok Petung Village, Sembalun District
Keywords:
Wiwitan Tama Taon, Hermeneutika Hans-Georg Gadamer, Tradisi, Makna KulturalAbstract
Abstrak: Tradisi wiwitan tama taon merupakan ritual selamatan dan syukuran awal tahun yang menandai akan dimulainya kegiatan bercocok tanam yang bertepatan dengan musim penghujan. Tradisi ini merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat Bilok Petung atas hasil pertanian dan perkebunan yang diperoleh sepanjang tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna dalam prosesi dan sajian tradisi wiwitan tama taon di Desa Bilok Petung Kecamatan Sembalun. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan metode pengumpulan data melalui observasi partisipatif, wawancara, dan dokumentasi. Data yang diteliti berupa prosesi dan sajian dalam tradisi wiwitan tama taon yang dianalisis menggunakan teori Hermeneutika Hans-Georg Gadamer yaitu hermeneutika historis, prasangka, dialektis, dan linguistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna prosesi seperti menyilak, doa, menikmati sajian, dan salaman dalam tradisi wiwitan tama taon mempresentasikan penghormatan dan kebersamaan dalam pelaksanaan ritual, sedangkan makna sajian seperti klepon ’benih laki-laki dan mata perempuan’, serabi ’aspek keperempuan dan telinga laki-laki’, bubur putih ’laki-laki’, dan bubur merah ’perempuan’ dimaknai sebagai simbol keindahan, kesederhanaan, dan keseimbangan serta ungkapan rasa syukur masyarakat Bilok Petung.
The meaning of the Wiwitan Tama Taon tradition in Bilok Petung Village, Sembalun District
Abstract: The wiwitan tama taon tradition is an annual thanksgiving ritual that marks the beginning of the planting season, which coincides with the onset of the rainy season. This tradition serves as an expression of gratitude among the people of Bilok Petung for the agricultural and plantation yields obtained throughout the year. This study aims to describe the meanings embedded in the procession and ritual offerings of the wiwitan tama taon tradition in Bilok Petung Village, Sembalun District. This research employed a qualitative approach, with data collected through participant observation, interviews, and documentation. The data consisted of the ritual processions and offerings associated with the wiwitan tama taon tradition, which were analyzed using Hans-Georg Gadamer’s hermeneutic theory, encompassing historical, prejudicial, dialectical, and linguistic hermeneutics. The findings reveal that ritual processions, including menyilak (invitation), prayer, sharing ritual offerings, and handshaking, represent respect and communal solidarity in the performance of the ritual. Meanwhile, ritual offerings such as klepon (“male seed and female eye”), serabi (“female aspect and male ear”), white porridge (“male”), and red porridge (“female”) are interpreted as symbols of beauty, simplicity, balance, and expressions of gratitude among the people of Bilok Petung.
Downloads
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Nila Marta Sari Nila, Saharudin, Muh. Syahrul Qodri

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.


